Oleh : Risda Agustina,S.Pd.
Saya adalah seorang guru kelas IV di SD Negeri Citeureup Mandiri 1. Saya menyadari betul bahwa penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Saya pun berusaha mengintegrasikan berbagai media. Tidak hanya media digital namun media ”scrapbook” dan juga “smart box” .
Media media ini saya gunakan Ketika mengajar mata Pelajaran Pendidikan Pancasila materi Hak dan kewajiban. Biasanya, siswa berpikir belajar Pendidikan Pancasila itu membosankan, agak sulit dipahami karena banyaknya teori saja. Oleh karena itu, saya memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu utama untuk menjelaskan materi dengan cara yang lebih visual dan interaktif. Begitupun dengan penggunaan media media ”scrapbook” dan juga “smart box” yang membuat siswa menjadi lebih kreatif, dan tertarik mengikuti pelajaran.
Saya memulai pembelajaran dengan menayangkan video edukatif dari YouTube yang menjelaskan materi mengenai Hak dan kewajiban di rumah dan disekolah. Sayapun menggunakan PowerPoint interaktif yang menampilkan animasi sederhana tentang berbagai contoh hak dan kewajiban di kehidupan sehari-hari dalam bentuk video. Siswa tampak antusias melihatnya.
Kegiatan selanjutnya, saya melakukan tanya jawab mengenai hal hal yang sudah ditampilkan. Luar biasa… siswa siswa sangat antusias. Beberapa ada yang bertanya, beberapa ada yang menjawab pertanyaan temannya.
Setelah itu, saya membagi siswa siswa menjadi 3 kelompok belajar. Kategori rendah-sedang, sedang-mahir dan mahir. Setiap kategori diberi LKPD yang berbeda beda disesuaikan dengan kategori nya. Kelompok rendah-sedang diberikan tantangan membuat pohon rindang yang mana mereka harus mengklasifikasikan contoh contoh hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari hari dalam bentuk gambar disertai dengan keterangannya. Kelompok sedang-mahir diberi tantangan membuat smart box yang mana mereka diberi banyak kalimat kalimat mengenai hak dan kewajiban dan harus mereka klasifikasikan antara hak dan kewajiban. Dan kelompok terakhir kategori mahir diberi tantangan membuat “scrapbook” yang mana mereka harus mencari berbagai macam contoh hak dan kewajiban tanpa saya beri gambar dan teks kalimat-kalimat. Mereka harus mencari sendiri. Setelah itu siswa-siswa tampil untuk mempresentasikan apa yang telah mereka buat.
Untuk meningkatkan partisipasi, saya mengajak siswa bermain kuis online menggunakan Kahoot. Melalui permainan tersebut, mereka berlomba menjawab pertanyaan dengan cepat dan benar. Kegiatan ini tidak hanya melatih pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar dan kerjasama di antara siswa.
Di akhir pembelajaran, saya memanfaatkan potongan kertas sebagai media refleksi. Siswa menuliskan pendapat dan perasaan mereka setelah mengikuti kegiatan belajar menggunakan beberapa media. Hasilnya sangat menggembirakan — sebagian besar siswa mengatakan mereka merasa senang dan lebih mudah memahami materi.
Dari pengalaman ini, saya berpikir bahwa teknologi memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan namun kita seorang guru harus memikirkan pula media pengganti jikalau satu media tidak terlaksana dengan baik. Makadari itu dalam kesempatan ini saya menggunakan beberapa media dalam satu pertemuan dan hal ini membuahkan hasil.
Teknologi bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi justru memperkuatnya — membantu guru menyampaikan konsep dengan cara yang lebih mudah dipahami siswa. Saya merasa bangga dapat memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses belajar, sekaligus memberikan pengalaman baru yang berharga bagi siswa-siswa saya.

